May 11, 2011

“ MATEMATIKA Ohhh MATHEMATICS ”

Pada tahap awal matematika terbentuk dari pengalaman manusia dalam dunianya secara empiris. Hal tersebut dikarenakan matematika sebagai aktivitas manusia kemudian pengalaman itu diproses dalam dunia rasio, diolah secara analisis dan sintesis dengan penalaran di dalam struktur kognitif, sehingga sampailah pada suatu kesimpulan berupa konsep-konsep matematika. Agar konsep-konsep matematika yang telah terbentuk itu dapat dipahami oleh orang lain dan dapat dengan mudah dimanipulasi secara tepat, maka digunakan notasi dan istilah yang cermat yang disepakati bersama secara global yang dikenal sebagai bahasa matematika.
Mengutip perkataan dari Abraham S Lunchins dan Edith N Lunchins “ In short, the question what is mathematics? May be answered difficulty depending on when the question is answered, where it is answered, who answer it, and what is regarded as being included in mathematics.” Singkat kata, “ Apakah matematika itu? dapat dijawab secara berbeda-beda tergantung pada bilamana pertanyaan itu dijawab, dimana dijawab, siapa yang menjawab, dan apa sajakah yang dipandang termasuk dalam matematika”. Dengan demikian, untuk menjawab pertanyaan apakah matematika itu tidaklah dapat dengan mudah dalam menjawabnya menggunakan satu atau dua kalimat begitu saja. Berbagai pendapat muncul tentang pengertian matematika tersebut, yang dipandang dari pengetahuan dan pengalaman masing-masing yang berbeda.
Contoh nyata-nya ada pada bahasa analog dari matematika itu sendiri, istilah mathematics (Inggris), mathematik (Jerman), mathematique (Perancis), matematico (Itali), matematiceski (Rusia), dan juga mathematick/ wiskunde (Belanda) mewakili makna yang sama didalamnya. Yang pada dasarnya matematika berasal dari perkataan latin mathematica, yang mulanya diambil dari perkataan Yunani mathematike, yang berarti “ relating to learning ”. perkataan itu mempunyai akar kata mathema yang berarti pengetahuan atau ilmu. Dan perkataan mathematike berhubungan erat dengan sebuah kata lainnya yang serupa, yaitu mathanein yang mengandung arti belajar.
Matematika dapat didefinisikan dengan sejuta makna tergantung oleh ruang dan waktu. Tetapi tidak satu pun perumusan tersebut dapat diterima secara umum, atau sekurang-kurangnya dapat diterima dari berbagai sudut pandang. Rambut kepala boleh sama hitam, namun lain orang dapat pula lain pendapat. Tidak dapat disalahkan masing-masing pendapat daripadanya. Terdapat perumpamaan gajah seperti tiang listrik itu ada benarnya tetapi hanya untuk kakinya, gajah seperti tali ada benarnya tetapi hanya untuk ekornya, gajah seperti pipa ada benarnya tetapi hanya untuk belalainya, gajah seperti baki ada benarnya tetapi hanya untuk telinganya yang lebar. Begitu pula dengan pendapat orang buta mengenai gajah yang mereka pegang. Akan tetapi apakah pengertian gajah hanya cukup sampai disana? Tentulah tidak. Jika digeneralisasikan, agar lebih seksama dalam memahami tentang objek pikir haruslah diketahui secara keseluruhan tentang objek pikir tersebut. Baik keseluruhan fisiknya, serta segala sesuatu yang berhubungan dengan objek pikir itu sendiri. Untuk itu tidaklah cukup waktu yang sedikit dalam mengetahui kebenaran dari yang ada dan mungkin ada.
Begitu pula dengan matematika, jika dianalogikan sebagai bahasa atau sarana berpikir ada benarnya juga. Hanya apakah pengertian matematika hanya sampai disitu? Tentulah tidak. Matematika jauh dari hanya sekedar bahasa dan sarana berpikir. Kompleksnya, matematika mencakup bahasa, bahasa khusus yang disebut dengan matematika. Melalui matematika kita dilatih untuk dapat berpikir secara logis, dan dengan matematika ilmu pengetahuan lainnya dapat berkembang dengan cepat. Dengan perkataan lain, matematika tumbuh dan berkembang untuk dirinya sendiri sebagai suatu ilmu, juga untuk melayani kebutuhan ilmu pengetahuan dalam pengembangan dan operasionalnya. Untuk itu berbanggalah kita yang dapat menjadi bagian dari matematika.
Perlu diketahui bahwa isi maupun metode dalam mencari kebenaran dalam matematika berbeda dengan ilmu pengetahuan alam apa lagi dengan ilmu pengetahuan umumnya. Metode mencari kebenaran yang dipakai dalam matematika adalah ilmu deduktif, sednagkan dalam ilmu pengetahuan alam adalah metode induktif atau eksperimen. Namun dalam matematika mencari kebenaran itu bisa dimulai dengan car induktif, tetapi selanjutnya generalisasi yang benar untuk semua keadaan harus bisa dibuktikan secara deduktif. Dalam matematika, suatu generalisasi, sifat, teori, atau dalil belum dapat diterima kebenarannya sebelum dapat dibuktikan secara deduktif.

No comments:

Post a Comment

“ MATEMATIKA Ohhh MATHEMATICS ”

Pada tahap awal matematika terbentuk dari pengalaman manusia dalam dunianya secara empiris. Hal tersebut dikarenakan matematika sebagai akti...